BBM naik, BBM tidak naik, semua sudah terlanjur panik

May 10th, 2008

ini logika gua terkait masalah BBM:

Indonesia penghasil minyak mentah..

Indonesia pembeli minyak yang sudah diolah..

Indonesia mengalami penurunan produksi minyak..

Sekaligus peningkatan yang tajam dalam penggunaan BBM.

Harga minyak bumi meroket hingga 120$

Sedangkan rakyat Indonesia hanya perlu mengeluarkan uang untuk minyak dengan harga 60$.

60$ sisanya di"talangin" oleh pemerintah.

Akibatnya pemerintah cekak.

Biar tetap berduit = harga BBM hgarus dinaikan.

Bila pemerintah berduit = harga BBM naik = Sembako naik = rakyat kecil ga punya duit.

Buah simalakama.

Jadi bagaimana?

Kita harus hemat kawan!! hemat BBM. Kita konsumtif gila!! GILA! sekeluarga punya mobil 4!! tiap malam minggu jalan pake mobil!! K kampus pake mobil!! Gimana kita ga jadi konsumtif???

Biodiesel juga bukan solusi murni. Biodiesel tetap harus dicamput dengan BBM. fungsi biodiesel  sendiri kan menekan pencemaran dan mningkatkan efisiensi si BBM. Jadi ya walau ada biodiesel, kita tetap harus hemat BBM.

Kalau mobil2 pemerintah dijual, kalau gaji pemerintahan dikurangin, kalao gaji DPR dikurangin, cukup ga buat nalangin?? rela ga mereka? pemerintah butuh duit. So simpel kan??

Gua ga tahu seberapa gede expense pemerintah untuk kebutuhan sehari2nya.. tapi betul kata Goenawan Mohammad di tempo edisi minggu lalu.

kalo semua jas pegawai pemerintah diganti batik aja… berapa tuh penghematannya…

[ya Tuhan, betapa beratnya untuk tetap percaya dan jangan pernah berhenti berharap pada Indonesia]

AYO KAWAN!! HEMAT BBM!!!

demi Indonesia!

atau kalau susah at least demi duit di dompet lo lah..

sore indah

May 8th, 2008

indah…
ada sinar oranye masuk lewat pintu kamar..
tapi begitu ngeliat keluar
yang kelihatan rintik-rintik hujan.

romantis,,,

kenapa ya kalau saya marah atau sedih, saya ingin badan saya bertaburan jadi rintik hujan? mungkin karena baunya harum dan indah. jatuh ke tanah lalu merekaj lagi jadi cipratan yang  lebih kecil.

[Pak Hari Lubis bilang
"jangan berhenti berharap pada Indonesia. Kita negara besar, dan bila kita berhasil mengatasi krisis ini, masa keemasan tersebut adalah masa kalian....."

entahlah...
saya pikir kemampuan saya berharap suah menjadi tetes hujan..
saya takut gagal,
saya takut terpuruk.
saya takut jadi sampah.

lalu bila bukan saya
siapa?]

saya sedang berdiri di dekat jemuran.
masih melihat rintik-rintik hujan,
dan sinar oranye masih masuk ke kamar.