Muse - Knights Of Cydonia Lyrics

April 22nd, 2008

[man.. ini lagu perjuangan!!!!]

Ahhh Ahhh Ahhh
Ahhh Ahhh Ahhh
Ahhh Ahhh Ahhh
Ahhh Ahhh Ahhh
Ahhh Ahhh Ahhh
Ahhh Ahhh Ahhh

Come ride with me

Through the veins of history

I’ll show you how God

Falls asleep on the job

And how can we win?

When fools can be Kings

Dont waste your time

Or time will waste you…

Ahhh Ahhh Ahhh

Ahhh Ahhh Ahhh

Ahhh Ahhh Ahhh

Ahhh Ahhh Ahhh

Ahhh Ahhh Ahhh

Ahhh Ahhh Ahhh

No one’s gonna take me alive

The time has come to make things right

You and I must fight for our rights

You and I must fight to survive

No

one’s gonna take me alive

The time has come to make things right

You and I must fight for our rights

You and I must fight to survive

No one’s gonna take me alive

The time has come to make things right

You and I must fight for our rights

You and I must fight to survive…

–untuk mereka yang mau ikut berjuang..
yang menaklukan lelah dan tetap tegak berdiri bahkan ketika harapan itu kosong…–

Hari Kartini yang aneh,,, (diucapkan dengan nada menurun di akhir kalimat ala sinchan)

April 22nd, 2008

Kenapa waktu 21 April kemarin kita disuruh
pake batik? Apakah karena kartini dulu selalu memakai batik? Kayaknya sih, dia
pakai kebaya walau bawahnya batik. Hohohoho…

Nuansa batik begitu terasa di kampus
ganesha kemarin. Dresscode yang
digaungkan kabinet cukup berhasil dipopulerkan.  Tapi sepertinya korelasi antara batik dan
kartini itu sendiri masih terlalu lemah di logika saya.

Mari kita coba mengkorelasikan:

Kartini ada seorang ibu rumah tangga dari
keluarga Jawa ningrat. DIa memberikan pendidikan kepada anak-anak perempuan di
lingkungannya, di mana pada masa itu perempuan tidak berhak menyentuh bangku
pendidikan. Walau meninggal di usia muda, apa yang ia lakukan menjadi katalis
penyetaraan pendidikan antara perempuan dan laki-laki di Indonesia. Saya
menekankan kata penyetaraan pendidikan. Konsep penyetaraan di sini bukan pukul rata secara membabi buta ya, tapi
sebuah konsep yang (bagi saya) mengakui keberadaan wanita untuk turut menyeselesaikan masalah-masalah dunia,
bukan sejedar penghias warna-warni dunia… halah… 
J
Bagian dari feminism
J Dan hei,,, feminisme adlah konsep
yang turunannya banyak, jadi ga selalu negative.. Meminjam istilah Hanna:
Feminisme itu bukan tunggal, tapi jamak, banyak mazhabnya.

Nah. Sekarang dengan latar belakang apa
yang telah Kartini lakukan, pemerintah memperingati 21 April sebagai hari Kartini. Kita pun diperbolehkan
memperingati hari ini dengan berbagai cara. DI kampus kemaren, ada diskusi yang
mengundang cewek2 ok yang sukses. Bolehlah. Itu menunjukan wanita-wanita ini
telah mendapat pendidikan yang dulu diperjuangkan kartini dan terbukti mampu
ikut berusaha memperbaiki masalah sekitar yang ada. Tapi kalau fashion show??

Okeilah, batik pakaiannya kartini. Tapi
masak itu dasar kita pakai batik-an? Kalau yang jadi perancang fashion shownya
termasuk cewek2 oke, gw masih terima. Kalau di balik setiap busana yang
ditampilkan ada penjelasan yang berbau filosofis, gw malah tambah seneng. Tapi ini
fashion show yang “seolah-olah” dijadikan daya tarik semata untuk meramaikan
diskusi yang diadain. Yang ada, diskusi hanya tinggal diskusi. Suara para
pembicara tenggelam di anatar para mahasiswa yang ramai memenuhi CC entah untuk
apa.

Fiuh… di mana semangat kartininya?? Bagi
saya, Hari Kartini adalah hari untuk mengingatkan orang tentang seorang Kartini
yang mau memenuhi cita-citanya walaupun nekat. Hari Kartini adalah peringatan
kepada seorang wanita yang membuat saya bisa sekolah dan menulis tulisan ini.
Jadi, wajarlah saya kecewa dengan perayaan yang kali ini… Kosong sajalah… Tapi
tak pa-pa.. Diawali dengan hura-hura, semoga diakhiri dengan renungan di hati
para penonton fashion show kemarin
sore,,,, hohohoho…

Saya menolak konsep NON HIM apalagi Anggota Muda Anggota Biasa ala MTI….

April 15th, 2008

Jadi ya teman-teman, karena saya adalah Mahasiswa Teknik Industri
ITB angkatan 2005 dan somehow
berhasil mengalahkan ego diri dan idealisme lalala sehingga bisa mengikuti PPAB
sampai selesai walaupun “berkasus” maka saya mendapakan status sebagai anggota
MTI.

MTI itu katanya adalah Keluarga Mahasiswa Teknik Industri
ITB yang entah kenapa hanya disingkat menjadi MTI (tanpa embel Himpunan atau
Keluarga atau Ikatan). Jadi kalau bicara
konteks, semua mahasiswa ITB yang punya nim 134 harusnya adalah MTI aka
Mahasiswa Teknik Industri. Walaupun MTI di sini merujuk pada organisasi yang
isinya adalah orang-orang yang lulus PPAB dan punya jahim biru muda, tapi
pemilihan nama tentunya bertujuan untuk menunjukan secara cepat kepada orang di
luar sistem siapakah organisasi ini.

Jadi menurut saya, dari segi nama aja, harusnya semua orang
yang punya nim 134 adalah MTI. Konsep Non-him bagi saya telah gugur dengan
bilang: himpunan gw “MTI”

Argumen lain

Zaman telah berubah,, kita tidak lagi berperang terhadap
orde baru,, karena kehilangan musuh (orde baru), kita jadi berperang terhadap
orang di luar sistem. Mulai dari rektorat, KM ITB, bahkan orang2 yang ga kita
anggap layak ada di MTI karena dia ga melakukan apa / kontribusi.

Saya ga sepakat kalau untuk masuk MTI adalah sebuah pilihan.
Bagi saya masuk MTI adalah hak. Kenapa hak? Karena saya ga melihat ada alasan
logis bahwa apa yang bisa dinikmati di MTI (rasa kekeluargaan, silaturahim,
mengabdi kepada sesama) hanya untuk mereka yang ikut PPAB. Apalah PPAB itu?
Untuk membentuk karakter? Karakter apa? Karakter satu sebagai angkatan? Apakah
harus menjadi satu angkatan yang solid kemudian baru boleh menjadi MTI? Kita
bukan tentara! Yang dibentuk  pada PPAB adalah rasa kepedulian. Memangnya
kenapa kalau karakter itu dibentuk seiring dengan masuknya mereka sebagai
anggota MTI? Ga salah kan?

Ini logikanya bagi saya. Kamu masuk MTI bukan karena kamu sudah solid, kuat, dan saling gotong
royong. Tetapi karena kamu sudah jadi anggota MTI, kamu harus punya karakter
kuat, solid dan saling gotong royong!!

Menurut saya menjadi anggota MTI dapat dianggap sebagi suatu
penghargaan kepada mereka yang telah berhasil menembus USM dan SPMB.
Mereka-mereka ini (termasuk kita semua) menjadi satu dan punya keterikatan
karena saru kesamaan: setara secara akademik. Konsekuensi dari penghargaan itu
adalah menunjukan sikap integritas, bertanggungjawab dan mengabdi pada sesama.
Untuk membentuk karakter tersebut  adalah
tanggung jawab MTI. Dalam hal ini
kaderisasi bisa jadi salah satu tools-nya.

Beda lho. Kalau ikut kaderisasi untuk mendapat status. Yang
kita pikirin adalah bagaimana menuntaskan proses kaderisasi. Tapi ketika
kaderisasi dibuat untuk meningkatkan kualitas diri, tentu setiap orang yang
ikut adalah mereka yang benar2 ingin mendalami dan mengambil hikmah dari setiap
proses.

Intinya sih: PPAB ga membantu banyak dalam membentuk
karakter seseorang apalgi angkatan. Bagi saya pribadi PPAB berpengaruh besar dalam
membentuk jiwa militansi yang berlebihan di beberapa orang dan mengobarkan cara
pandang hitam putih yang cukup naïf. Buntutnya: membuat perpecahan terselubung dalam
angkatan maupun lintas angkatan yang baru dirasakan 2 – 3 tahun kemudian.

 OK, kembali ke awal.
Masuk MTI bukan pilihan, tapi hak. Emang si ada yang bilang: “Jangan pikirin apa yang MTI kasih ke anda,
tapi apa yang bisa anda kasih ke MTI”. Dengan pandangan seperti ini, silakan
pilih, mau ngasih sesuatu atau ga? Kalau ga, yang jangan masuk MTI.

 Nah, masalahnya: quote itu aslinya kan “Jangan pikirin apa yang udah Negara
kasih ke anda, tapi apa yang udah anda kasih ke Negara” (Abraham
Lincoln, Presiden Amerika Serikat ke sekianlah…). Ketika kita adapt quote itu, apa kita udah jadi
warga Negara??
Udah kan…?? Terus kenapa quote itu muncul. Menurut saya, itu adalah suatu ajakan untuk
memikirkan kepentingan bersama dengan mengorbankan kepentingan pribadi dan
golongan, karena Negara adalah tak lain kita semua. Nah jelas kan Negara
itu siapa.

Kalo kita pake quote
itu di MTI sebagai “landasan” untuk mengajak (atau mungkin memaksa??) orang
masuk MTI, anehlah… siapa itu MTI?? Sesuatu di luar sana di mana si calon anggota
adalah orang di luar sistem.  MTI sudah
menagih kontribusi (memilih masuk him) sebelum para calon anggota ini mendapat
haknya…  

Kenapa sesuatu yang harusnya bisa dibagi bersama (rasa
kekeluargaan)  harus dibatasi hanya
kepada mereka yang baik menurut perspektif satu pihak saja? Apakah kalau PPAB
quota, itu berarti tanda angkatan yang solid? Tidak ada yang bisa menjamin.
Apakah kalau jiwa militan timbul, MTI akan tambah solid? TIdak ada jaminan
juga. Karakter militant pada anggota himpunan dahulu diperlukan karena kita
punya musuh yang juga militan: Orde Baru. Setelah orde baru tumbang, situasi
berubah dengan cepat. Begitu juga lingkungan luar MTI. Ketika MTI tetap berjalan
di tempat, militansi itu pun tidaklah lagi terlalu berguna. Sisa dari militansi
hanyalah pola pikir hitam putih dari para anggota baru dan mematikan kemampuan
tiap anggota untuk memiliki rasa toleransi dan menghormati ketika ada perbedaan
prioritas.

Keanggotaan MTI adalah
HAK semua mahasiswa yang diterima di Program Studi Teknik Industri
.

Konsep Non-HIM sudah tidak sesuai dengan zamannya. Non-HIM
adalah solusi yang salah untuk suatu masalah. Ketika ada seseorang yang tidak
sepakat dengan suatu pola pikir organisasi, daripada mencoba berdiskusi dan
berdamai, orang ini dibuang saja. Bukankah lebih baik bila orang itu mundur saja
bila memang sudah tidak ada jalan? Memang dia juga akan berstatus non-HIM. Tapi
dengan konsep ini, artinya dia pernah menjadi anggota MTI. Artinya lagi, ketika
dia memilih mundur, maka alasannya tentu akan lebih jelas dan clear. Jadi
Non-HIM tidak lagi melekat pada “orang yang ga mau iktu kaderiasai”, atau
“orang yang MT” tapi lebih karena suatu diskusi panjang yang ternyata memang
tidak berjalan keluar. Lebih intelektual bukan daripada sekedar omongan di
belakang para nonhim bahwa kaderisasi hanyalah bentuk penindasan kemanusiaan.
Xp

Saya kenal seorang Non-Him. Secara karakgter saya lebih
menghormati dia, karena dia lebih disiplin, tepat waktu dan tegas. Waktu itu
dia memilih nonhim karena dia punya prioritas lain. Saya rasa pilihan dia tidak
salah. Karakter dibentuk di PPAB tidak memberikan perbedaan signifikan antara
kami dan dia.

Beh,, banyak aja,,,,

Oleh karena itu kawan,,, saya mengusulkan untuk mahasiwa TI angkatan
2007 dan seterusnya semua diterima menjadi anggota MTI. Karena jurusan Teknik
Industri bukanlah pilihan dari tiap orang, tapi “takdir”. Nah, keluarga kan
juga takdir, ga bisa milih. Jadi kita juga ga bisa milih keluarga jurusan kita
selain dari keluarga mahasiswa jurusan kita kan :D Oiya, menurut saya juga
merupakan pengamalan sila ke 5 Pancasila lo. Inget ga isinya apa???

“Keadilan SOSIAL bagi seluruh rakyat Indonesia”

 

Untuk sistem di MTI sendiri.

 Kita harus dengan
rendah hati mau merombak MTI dari awal. MTI sudah butuh adaptasi internal. Di
MTI sekarang, yang berantem adalah
orang-orang yang baik, yang ingin MTI Menjadi lebih baik.
Lalu kenapa kita
berantem? Sistem membuat kita berantem. Sistem yang mana? Salah satunya sih,
yang paling kentara ya sistem AM/AB. 

Nih… Noviana – Ketua Pemilu Senator pas Ubay. Kenapa dia
anggota muda? Atau Ujan, yang Koordinator Lapangan PPAB 2006. Atau beberapa
teman lain yang ga pernah memimpin tapi selalu ad bila dibutuhkan (Babeh,
Ngkong, Dwi, Sindy, Jamal, Stevi06.dll)Kenapa dia anggota muda? Kurang
berkontribusi? Apa definisi kontribusi sekarang? Datang ke acara hura2? Jadi
panitia acara hura2? Merasa sudah populer? Saya sama sekali ga sepakat kalau
alasannya adalah karena kontribusi.

Emang sih mereka yang mau jadi anggota muda. Tapi kenapa??
Karena tawaran yang diberikan adalah –kalo jadi anggota biasa bisa jadi BP dan
punya hak pilih.. Oh man,,, Mereka bukan tipe orang yang gila kekuasaan. Dan
sepertinya argumen untuk menjadi Anggota Biasa yang diberikan ketika wawancara
transformasi AM/AB (sama sekali)kurang cerdas untuk membuat mereka memilih
anggota biasa. Dan membiarkan orang
berpotensi macam mereka tetap memilih untuk menjadi anggota muda sama sekali
bukan bentuk penghargaan atas apa yang telah mereka lakukan.

Kembali ke sejarah, katanya dulu MTI mengalami masa kritis
di mana RA yang datang cuma 3 orang (ini konon katanya, kalau tidak tepat mohon
klarifikasinya CMIIW). Untuk mengatasi masalah ini, harusnya dicari dulu kan root cause-nya. Tapi entah siapa,
seseorang (atau mungkin beberapa??) yang menurut saya agak “kurang” dalam proses berpikir, menemukan solusi yang
dia/mereka anggap  “brilian” yaitu konsep
AM AB. Pembedanya cuma: datang RA atau tidak, Hak menjabat di struktural MTI,
dan hak suara. Alasannya sih biar yang tidak berprioritas di MTI bisa bebas
tugas datang RA dan RA lebih mudah kuota. Hello…?? Rapat Anggota adalah
kedudukan tertinggi di MTI menurut AD/ART MTI. Nah, kalo RA hanya mewakili
segelintir orang saja yang tunduk pada sistem yang kurang tepat (kalau tidak
mau dibilang sistem tersebut salah) di mana kekuatannya? Di mana kedaulatanya??
RA adalah non-sense belaka karena
memberikan diskriminasi pada anggota muda! RA tidak berdaulat. MTI cacat secara
organisasi..

Ini sih namanya mengobati sakit gigi pake obat sakit kepala
karena memang sakit gigi bisa bikin sakit kepala. Tapi kan sakit giginya tetep
ada. Saya rasa, masalah MTI adalah masalah sistem. Seperti saya bilang, zaman
telah berubah sejak reformasi 10 tahun lalu di Indonesia, tapi sistem di MTI
kayaknya tidak banyak  berubah sejak 10
tahun lalu. Salah satu efek nya, orang-orang jadi malas karena mereka sudah
tidak tahu untuk apa berhimpun ( secara di himpunan dibentuk jadi “tentara”,
tapi uda ga punya musuh lagi,, :p-hanya kiasan-). Masalahnya adalah sistem,
tapi diselesaikan dengan memungkin RA tetap jalan lewat AM-AB. Masalah dasar
tidak disentuh.. Begini deh akibatnya sekarang..ckckckkck

Nah… itulah salah satu contoh bahwa sistem yang dimiliki dan
tetap dipertahankan MTI sudah tidak tepat guna. MTI benar-benar perlu ditinjau
ulang, baik sistemnya maupun pola pikir semua anggotanya. DI sini semua kita
bersalah. Kita masing-masing kerap merasa paling benar dan tahu apa yang benar.
Ktia jarang mau duduk bersama dan berdiskusi secara sehat. Kita enggan untuk membicarakan
perubahan mengenai MTI satu sama lain di waktu senggang. Yang sudah sakit hati
(seperti penulis) malas membahas karna sudah merasa tidak akan didengar.
Kalaupun sudah membicarakan, saya khawatir pembicaraan tersebut menguap begitu
saja tanpa adanya follow-up berkelanjutan.
Yang sudah sakit hati (seperti penulis) malas membahas karena sudah merasa
tidak akan didengar.

Saya memilih menulis… Bila banyak yang tidak sepakat dan
merasa saya sok tahu, itu bagus. Ketidak setujuan akan melahirkan diskusi.
Diskusi melahirkan “kebersamaan”, pelajaran untuk mendengarkan dan saling
menghargai dan yang paling penting SOLUSI untuk membuat MTI kita bersama
ini menjadi organisasi yang lebih baik.

Diskusi sudah dimulai.. Tinggal sekarang, siapa yang mau
membuka lebih lebar wacana untuk merombak MTI secar besar2an berdasarkan ilmu
PO yang diajrkan di TI terutama oleh Bapak S.B Hari Lubis hohohohoho….

Hormat Saya,

 

Gitaditya Witono

134 05 113

Anggota Muda MTI….(karena sistem yang aneh…panjang
ceritanya, masak mao klean baca?? :p)

after the rain

April 11th, 2008

habis sakit, banyak hal yang menunggu di luar sana..
kerjaan di LSP, kuliah, PSM, IEC..

tapi gua di cut dari konse PSM MEi ini :|
kesel,,,,
sampe sekarang,,
kenapa juga ga dikasih tahu sejak gw sakit.. secara sejak gw sakit gw bolos latihan buanyak bgt,, kalau gara2 bolos itu gw di cut ya bilanglah dari sejak gw sakit… ngapain gw bela2in ngejar materi mandiri, nyanyi2 sendiri, belajar partitur sendiri dengerin mp3nya sendiri, bela2in datang latihan, kalau cuma buat di cut!!
*********!!!

mungkin gw emang harus istirahat :|
gw jadi males2an ngerjain semuanya..
tugas kuliah,
IEC,
Pendaftaran FPS,
pacaran,
MALAS BERAT…

Kemaren didit ngasih buku dengan judul "A Meditation for Woman Who Do Too Much"..

Do I need it??

Hidup itu kayak kotak coklat,,,
Walau rasa rum itu enak, tapi kalo dasarnya ga suka ya coklat rum ga bakal terasa enak.

Gw ga begitu suka rum.
Kotak coklatnya sekarang cuma produksi segambreng coklat rum buat gw!
huuhuhu….