selibat dan agama

June 30th, 2007

kemaren, walau cuma sehari dari 3 hari, gw ikut acara family day gereja gw. Acaranya semacam outbond di danau Lido, Sukabumi. DI acara itu, berkumpul macam2 orang dengan range usia yang sangat luas (dari anak2 ampe lansia bo’!). Kita dibagi jadi beberapa kelompok dan bersenang2 di sana. Ada latian penyelamatan di airnya lo.. asek abes dah,,

Di sana, kita didampingi oleh 23 frater. Frater itu adalah istilah untuk orang-orang yang mau jadi pastor. Dan karena mereka mau jadi pastor, mereka tidak untuk di-jatuhcinta-i atau di-pdkt-i. (sayang, padahal ada yang ganteng,, hihihihi). Soalnya, pastor kan tidak menikah (selibat).

Gw sekarang juga sedang bervisi untuk hidup selibat. Sama kayak frater2 ini. Bedanya, gw pingin selibat salah satunya karena gw rasa itu adalah sebuah kontribusi maksimal yang bisa gw lakukan untuk menekan populasi di bumi yang sempit ini. Bila digabung dengan alasan2 lain, let say it’s for an abstract humanity reason.. haha..

Tapi kalo frater2??

Sama juga sih.. [doeng..jadi apa bedanya coba,, :|].

Mereka selibat karena alasan yang ga jauh beda ama gw. Yang gw tangkep, ketika mereka berani jadi pastor maka mereka sudah menyandang misi2 kemanusiaan yang lebih wah dan lebih macho. Kenapa? Karena Tuhan Yesus adalah pahlawan kemanusiaan. Menjadi pelayan Tuhan, artinya menjadi pelayan kemanusiaan juga kan?

Tadi malam gw harus segera pulang karena papa ga sehat. makanya gw belum sempet nanya ke para frater (ganteng.. :p) ini. Kalau ternyata Tuhan itu ga ada, kalau ternyata mereka ga mengenal Yesus, apakah mereka mau jadi pelayan kemanusiaan dan hidup selibat?

sekip

Gw sering bertanya kenapa Tuhan membiarkan agama itu ada sedemikian rupa sehingga kita begitu terkotak-kotak. Tapi tadi malam, ketika gw ikut misa dan melihat betapa banyak orang menikmati puji2an dan doa, gw rasa manusia membutuhkan agama. [termasuk gw, terlepas dari keanehan dan ketidaksregan gw akan banyak hal] Coba bayangkan dunia tanpa agama (atau kepercayaan apapunlah).

.

.

.

[hampa ga sih?]




3 Responses to “selibat dan agama”

  1.   Angga on July 5, 2007 10:24 pm

    hehehe..pertanyaan yang sama juga pernah muncul dalam diri q git, tya, atau sapa ne…hehe..lebih baik dipanggil nona saja..hehe..mengapa Tuhan ngebuat begitu ragam agama yang justru pada akhirnya ngebuat perang satu sama lain…hehehe…tapi kalo direnung2in lagi, kayaknya semua agama itu sebenrnya sama (tanpa bermaksud merelelativir lho…hehehe) maksudnya sama itu bahwa mereka punya tujuan n nilai yang sama untuk suatu yang lebih tinggi. maka bagi q salah besar bila agama yang satu justru ngebuat pengkotakan denagn agama yang lain…padal mereka saudara meski punya keyakinan yang beda..namun pertanyaan yang skarang muncul ialah bagaimana dengan seorang ateis yang “beriman” pada substansi yang tidak diketahui namanya, meski ateis mereka tetap memperjuangkan kemanusiaan, sedangkan kita yang beragama malah justru saling sikut…hehehe…!!!???

  2.   Bowie on September 11, 2007 3:53 am

    Kata John Lennon juga,

    Imagine there’s no countries
    It isn’t hard to do
    Nothing to kill or die for
    And no religion too

  3.   aprire on June 2, 2009 8:29 am

    para frater bukan untuk menyandang, misi kemanusiaan tetapi lebih dari pada itu, demi Kerajaan Allah. (Mat 19-12).

    Apa dan Mengapa Selibat?

    oleh: Romo Francis J Peffley

    Tuhan Yesus adalah seorang imam (Ibrani 4:14: “Karena kita sekarang mempunyai Imam Besar Agung, yang telah melintasi semua langit, yaitu Yesus, Anak Allah”). Ia hidup selibat dan memanggil kita untuk melakukan hal yang sama. Petrus berkata: “Kami ini telah meninggalkan segala kepunyaan kami dan mengikut Engkau.” Kata Yesus kepada mereka: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya setiap orang yang karena Kerajaan Allah meninggalkan rumahnya, isterinya atau saudaranya, orangtuanya atau anak-anaknya, akan menerima kembali lipat ganda pada masa ini juga, dan pada zaman yang akan datang ia akan menerima hidup yang kekal.” (Luk 18:28-30).

    Abraham diminta untuk mengorbankan anaknya, Ishak (Kej 22). Melalui hidup selibat, seorang imam diminta untuk mengorbankan bukan hanya anaknya, tetapi juga isterinya. Yesus mengajarkan bahwa tidak semua orang dapat hidup selibat, tetapi mereka yang dipanggil baiklah ia melakukannya demi Kerajaan Allah: Murid-murid itu berkata kepada-Nya: “Jika demikian halnya hubungan antara suami dan isteri, lebih baik jangan kawin.” Akan tetapi Ia berkata kepada mereka: “Tidak semua orang dapat mengerti perkataan itu, hanya mereka yang dikaruniai saja - ada orang yang membuat dirinya demikian (selibat) karena kemauannya sendiri oleh karena Kerajaan Sorga. Siapa yang dapat mengerti hendaklah ia mengerti.” (Mat 19:10-12).

    Selibat adalah tanda kebangkitan; kita semua akan hidup selibat di kehidupan yang akan datang. Yesus mengatakan: “Pada waktu kebangkitan, orang tidak kawin dan tidak dikawinkan melainkan hidup seperti malaikat di sorga.” (Mat 22:30). Sesuai dengan teladan Kristus, para imam dipanggil untuk hidup selibat di kehidupan sekarang ini dan di kehidupan yang akan datang. Elia dan Yohanes Pembaptis, dua orang nabi besar, juga hidup selibat. St. Paulus bahkan menganjurkan hidup selibat di antara kaum awam. Ia menulis: “Adalah baik bagi laki-laki, kalau ia tidak kawin, tetapi mengingat bahaya percabulan, baiklah setiap laki-laki mempunyai isterinya sendiri dan setiap perempuan mempunyai suaminya sendiri. Namun demikian alangkah baiknya, kalau semua orang seperti aku; tetapi setiap orang menerima dari Allah karunianya yang khas, yang seorang karunia ini, yang lain karunia itu. Adakah engkau terikat pada seorang perempuan? Janganlah engkau mengusahakan perceraian! Adakah engkau tidak terikat pada seorang perempuan? Janganlah engkau mencari seorang! Tetapi, kalau engkau kawin, engkau tidak berdosa. Orang yang tidak beristeri memusatkan perhatiannya pada perkara Tuhan, bagaimana Tuhan berkenan kepadanya. Orang yang beristeri memusatkan perhatiannya pada perkara duniawi, bagaimana ia dapat menyenangkan isterinya, dan dengan demikian perhatiannya terbagi-bagi. Perempuan yang tidak bersuami dan anak-anak gadis memusatkan perhatian mereka pada perkara Tuhan, supaya tubuh dan jiwa mereka kudus. Tetapi perempuan yang bersuami memusatkan perhatiannya pada perkara duniawi, bagaimana ia dapat menyenangkan suaminya” (1Kor 7).

    Selibat bukanlah sesuatu yang tidak wajar, melainkan sesuatu yang adikodrati. Selibat adalah karunia khusus dari Tuhan. Yesus adalah sungguh Allah dan sungguh Manusia. Sebagai manusia, Ia hidup sepenuhnya sebagai seorang manusia, dengan memilih hidup selibat. Selibat adalah mengorbankan keindahan hidup perkawinan demi Kerajaan Allah. Selibat bukan untuk orang yang tidak tertarik kepada lawan jenisnya. Tetapi, untuk mereka yang memang tertarik oleh lawan jenisnya. Jika mereka memang tidak tertarik, tidak akan ada pengorbanan untuk tidak menikmati hidup perkawinan. Selibat tidak menarik bagi dunia sekarang ini, karena selibat merupakan pengorbanan, dan pengorbanan bagi Tuhan bukanlah sesuatu yang disukai orang pada masa ini. Namun demikian, pendapat dunia tidaklah meresahkan Tuhan Yesus yang mengatakan: “Kerajaan-Ku bukan dari dunia ini.” (Yoh 18:36)
    “Kemurnian bukannya layak dipuji karena dilakukan oleh para martir, tetapi karena kemurnian itu sendiri menjadikan kita martir.” ~ St. Ambrosius
    sumber : Romo Francis J. Peffley; Father Peffley’s Web Site; http://www.transporter.com/fatherpeffleyDiperkenankan mengutip / menyebarluaskan artikel di atas dengan mencantumkan: “diterjemahkan oleh YESAYA: http://www.indocell.net/yesaya atas ijin Fr. Francis J. Peffley.”

Comments RSS

Leave a Reply

Name (required)

Email (required)

Website

Speak your mind