unlimited combination?
Gw lupa nama produknya apa. Sejenis spray cologne dengan 4 jenis aroma. Dalam iklan tersebut dikatakan bahwa spray cologne ini dapat digunakan dengan menggabungkan aroma satu dengan yang lain sehingga menghasilkan aroma baru sesuai karakter pemakainya. Dalam iklan tersebut, tersbutlah suatu kalimat : ‘Unlimited Combination!’ . Kalo ga salah ya..
Tapi.. kalo cuma ada 4 jenis aroma, ya jelas limited dong. Campurannya bisa jadi :
1. 1 aroma : 4 jenis
2. campuran 2 aroma : 4C2 = 6 jenis
3. campuran 3 aroma : 4C3 = 4 jenis
4. campuran 4 aroma : 4C4 = 1 jenis
Artinya, cuma ada 15 jenis campuran aroma yang bisa dihasilkan.
Kalau perbanding tiap campuran diperhitungkan, masih tetap limited juga kok. Andaikan semprotan maksimum tiap botol adalah x, maka untuk tiap2 campuran dapat dihitung banyak perbandingannya.
1. untuk 1 aroma: x
2. untuk 2 aroma: x kuadrat
3. untuk 3 aroma : x pangkat 3
4. untuk 4 aroma : x pangkat 4
Jadi, total aroma baru yang bisa dihasilkan dari produk ini adalah:
4x + 6x" + 4x"’ + x""
Dan artinya, itu limited. huehuehue.. iklannya salah tuh…
TAPI.. kalo perbandingannya dihitung berdasarkan volumenya, hmm itu baru bisa unlimited, soalnya kan volume itu ga disktrit. hanya saja kalo menurut gw sih, kayaknya rada2 mustahil kalo ada orang yang seniat itu melaksanakan kombijnasi aroma2 ini dengan takaran volume segala. RIbet bo’.. ngukurnya juga susah.. hahaha… paling juga dengan semprotan yak..makanya satuannya ’semprotan’. Hehehe,,,
Uncategorized | Comment (0)Campus Center atau Kampus Center atau Sentra Kampus
kalau jalan-jalan ke kampus itb yang di jalan ganesha nomer 10 bandung itu, pati begitu masuk lewat gerbang depan ada bangunan megah dan bagus (saking bagusnya jadi lebih mirip geung buat resepsi kwinan :p) menjulang tinggi.
apa nama bangunan ini??
1. CC, baca "sese" atau "cece". Biasanya sih orang akan bilang demikian kalau ditanya. CC kependekan dari Campus Center. Campus Center sendiri adalah nama resmi secara administrasi. Baju pegawai kebersihannya bertuliskan Campus Center.
2. Kampus Center. hehehe.. Kombinasi bahasa yang aneh. tapi sepertinya ad beberapa kalangan yang menggunakan nama ini ketimbang nama di nomer 1. Nah, kalau tiba2 ngeliat spanduk yang ada tulisan Kampu Center ITB, maka itu merujuk ke bangunan yang sedang kita bahas ini. Beneran. Tadi pagi sempet ga sengaja ngeliat spanduk dengan tulisan demikian.
3. Kampus Senter. itu jawaban saya kalo ditanya. lebih enak dibaca bila tertulis, lebih lucu, sayang bila diartikan cara hrafiah merujuk ke benda yang tidak ada kaitannya dengan pergedungan tapi alat penerangan. hahahahaha..
4. "Sentra Kampus" atau "Pusat Kampus". Sentra kan bentuk serapan dri "center’, sedang pusat ya terjemahannya. kalau ada yang menjawab ini, berarti sesuai dengn kaidah yang berlaku.
terlepas dari apapun itu namanya, gedung ini masih memberikan kesan dingin bagi saya. kta pusat atau ‘center’ yang melekat pada nam gedung ini hanya relevan untuk tempatnya saja. Sedang dalam kontek kegiatan, rasanya belum terlalu. atau mungkin karena dalam bayangan saya, sebuah pusat kampu harunya lebih "ramah" dan menyenangkan untuk dijadikan tempat nongkrong. seperti sebuah ruang keluarga dalam sebuah rumah. sedangkan dalam perancangannya, pusat kampus lebih merujuk pada pusat informasi, pusat kegiatan resmi, tempat di mana tamu-tamu itb dapat dijamu. seperti sebuah ruang tamu dalam rumah.
nah kalo git, mana pusatnya? ruang keluarga? atau ruang tamu? dua-duanya bisa, karena dua-duanya merupakan pusat untuk konteks yang berbeda. yang satu pusat internal, yang satu puat eksternal. Masalahnya sekarang kan kedua fungsi pusat ini dijalankan berbarengan di tempat yang sama. jadi yang ada ya keanehan. ada ruang buat kabinet dan kongres tapi sepi, ada restoran, tapi juga ada kantor LK. ya gitu deh. aneh .
Tapi kalo diamati dengan seksama, dari segi aritektur bangunan, tata ruang, dan saran prasarana yang ada, sepertinya Campus center lebih sah menjadi pusat eksternal, yang tentu saja tidak bis dipakai selayaknya pusat internal. Ga bisa duduk-duduk sembarangan, ngakak2 keras-keras, atau ngobrol sampai larut malam. Kesannya kalau nanti ada tamu yang datan kan tidak elok. Apalagi ada kantor biro kemahasiswaan yang membuat orang-orang yang ada di sana juga ga bisa membuat gaduh seenak jidat.
Jadi, biar atpamnya ga capek ngusirin mahasisw2 kalo udah malam, atau menegur mahasiswa2 nyeleneh, mending bikin aja lagi satu bangunan yang dulu pernah ada. ‘Student Center’. hehehehehe..
Uncategorized | Comments (5)Ujian Saringan Mandiri ITB
Ya, saya masuk ke ITB dengan jalur ini. Yang kalo sudah diterima harus membayar 45 juta rupiah minimal untuk SPDA nya. Bukan hal yang asing lagi kalau dalam pembicaraan sehari-jari ada selentingan-selentingan negatif soal angakatan 45 ini, di mana saya berada di dalamnya. Mulai dari USM ngurangin jatah SPMBlah, anak USM ga sepinter anak SPMB, anak USM borju, hedon, itu udah biasa.
Sampai suatu hari saya membaca blognya opak, dan ada kalimat terakhir yang ga ada hubungannya dengan semua paragraf di atasnya. lebih kurang kayak gini : "KAlo lo mampu, lo harus ikut USM, karena kalo lo SPMB, lo ngurangin satu jatah orang berbakat yang ga mampu buat masuk ITB". Sedangkan jauh sebelum ini, ada statement " USM mengurang kesempatan orang berbakat yang ga mampu buat masuk ITB."
Hmm, kedua statement ini terbaca sama benar ya. tapi pendekatannya beda,, Nah,, hal kayak gini nih yang saya maksud di tulisan saya sebelumnya. cara-cara orang menyimpulkan sesuatu sangat bergantung dari pengetahuan-pegetahuannya. KAlau begitu mana yang benar? Mana yang relevan dengan kondisi sekarang? untuk itu tentu dari setiap statement harus diturunkan dulu kan. kenapa bisa begini, dari mana…
saya masih belum bisa menjabarkan perihal kedua statement ini, perlu banyak infirmasi lagi.
Tapi kepikiran terus..
Sepertinya memikirkan hal ini adalah suatu kewajiban kasat mata bagi saya.
USM…USM…
( bersambung )
deduksi dan induksi
setelah gw pikir2,, ternyata gw adalah orang yang cenderung menginduksikan hal2 di sekitar gw. Celakanya lagi, kadang logika penginduksian gw adalah logika yang salah..
Akibatnya, gw kerap memyimpulkan hal2 di sekitar gw secara tidak seharusnya..
Entah kenapa gw jarang aja berdeduksi. Walupun gw dapat premis2 umum yang bisa gw terapkan langsung, tetep aja. kalau pun gw mendeduksi, maka premis umumnya merupakan hasil induksi
dari gw, bukan yang berlaku secara universal. Apa emang dasarnya gw ga ngerh ya kalo gw punya premis umum universal yang bisa gw manfaatkan untuk mncerna informasi2 di sekitar gw dengan tingkat kebenaran yang jauh lebih akurat daripada deduksi dengan premis umum dari gw sendiri.. hehehehe…
gw baru ngeh kalo hal induksi dan deduksi ini cukup menarik. Tidak ada ilmu pengetahuan murni yang berasal dari deduksi. tapi induksi!sedangkan karena induksi merupakan penyimpulan dari premis2 khusus, masih punya kesempatan untuk salah lo.,. hehehe… kalo dalam hal yang pasti2 kayak matematika, dasarnya malah dari aksioma, kesepakatan bersama,, berarti,yang kita pelajari bukanlah hal2 yang sebegitu agung, dasayt, hebat dan sakral ..
kalo udah begini,, barulah gw mulai tergoda lagi untuk berpikir… hal2 mistis2 religius,, deduksikah? atau induksi dengan kemungkinan kesalahnnya? bila deduksi, dari manakah premis umumnya didapatkan? wahyu? pencerahan?
*tuh kan,, gw ber-induksi lagi…. ;p
Uncategorized | Comment (1)sekarang dan tidak selama-lamanya
karena tidak ingin terus menerus seperti itu.
entah itu senang.
entah itu capek.
entah itu malas.
entah itu marah.
entah itu sedih.
entah itu apapun.
cukup sekarang.
dan tidak selama-lamanya*.