perubahan yng ingin saya lakukan…
1. ingin menjadi lebih halus, kao ngomong ga teriak2..
2. ingin menjadi lebih tegar dan ga gampang nangis
3. ingin bisa menghargai hidup ini dengan tepat.. gw begitu kurang bersyukur..
masih banyak ingin2 yang lain, tapi setelah gw pikir2, mending gw simpen buat diri gw sendiri. kan malu, uda banyak2 gw tulis, ga ada satu pun yang bisa gw jalanin,,, yang jelas gw sepertinya butuh satpam yang banyak,,, dan baru gw sadari sambil menulis ini bahwa ternyata gw sdh punya buanyak bgt… hehehehe
Uncategorized | Comments (4)teh pahit
pernah ada yang bilang:
kalo sakit, minum teh pahit.
entah sakit apa…
kemaren seharian minum teh pahit.
ga enak banget.
tapi hari ini, sepertinya sudah sehat kembali,,
ga mau sakit lagi,, huhuhu
it's tea time | Comment (1)tugas.. tugas..
wew… tuga ini indah…
hahahaha…
jam segini man gw masih belum tertidur, memikirkan bagamana membuat artikel yang bagus,,, huhuhuhuhu…
smangat slalu..
hihihhi..
tiba2 terinspiras
HARI DI MANA SEMUA BERUBAH, HARI
TERAKHIR DI MANA SEMUA DAPAT DIUNGKAPKAN SECARA JELAS
Aku maih mengingat dengan jelas
hari itu. Hari di maa pikiranku begitu ceria dan menyenangkan. Tak ada yang
lebih menyenangkan dalam hidup ini daripada mengetahui betapa hidup kita itu
cukup. Tidak lebih, tidak kurang.
Dan itulah yang aku rasakan hari ini. Semuanya sungguh cukup. Nilai kalkulus
dan fisikaku memang bukan A, tapi juga bukan E. Cukuplah. Aku memang tidak
punya banyak temen, tapi aku punya beberapa yang bias kuandalkan tiap saat. Aku
memang tidak punya pacar yang keren, tapi aku punya seseorang yang kukagumi
yang membuatku tersenyum kalau bertemu dengannya. Aku juga tidak sekaya
teman-temanku dalam hal materi, tapi aku masih bias bertahan hidup dengan
sangat cukup di jaman ini, di mana harag semua barang-barang naik dengan begitu
gilanya.
Dan hari itu terasa begitu indah. Aku begitu bersemangat pergi ke kampus.
Hari itu hari Kamis, di mana jadwal kuliah begitu menggila. Hanya ada istirahat
satu jam, jam dua belas sampai jam satu. Sisanya, dari jam tujuh pagi sampai
jam tujuh malam, penuh dengan kelas, Sebenarnya hanya sampai jam 5 saja. Tapi ada dosen yang memberikan kuliah
pengganti hari ini seingatku.
Semua buku yang diperlukan sudah ada di tas. Aku memutuskan tidak membawa
handphone atau dompet. Sudah akhir bulan dan pulsaku sudah tidak mampu untuk
mengirimkan pesan apalagi menelfon. Jadi sia-sia bila dibawa. Dompet juga sama
saja. Isinya hanya tinggal selembar kertas berwarna ungu ngejreng. Tapi
tiba-tiba inget pesen mama bahwa identitas diri harus selalu dibawa supaya
kalau ada razia mendakak, aman-aman saja. Maka aku mengeluarkan KTP dan KTM,
lalu menaruhnya di saku depan tas.
“Saya rasa cukup sekian. Sampai bertemu minggu depan sesuai jadwal semula.”
Itu satu-satunya kalimat dosen
yang aku ingat. Kepalaku agak pusing entah kenapa. Perasaanku juga tidak terlalu menyenangkan. Sangat
kontras dengan paginya, di mana semangat juang 45 menggebu-gebu. Sekarang
tanggal lima belas. Artinya, bila badanku sedang normal, tiga hari lagi aku
seharusnya menstruasi. Dan berarti perubahan perasaan yang begitu drastis yang
terjadi hari itu adalah normal. Itulah wanita, dengan Pre Menstruation
Syndromenya yang kata orang sungguh merepotkan. Tapi sepertinya perubahan tensi
yang naik turun begitu cepat selama PMS padaku semakin berkurang seiring dengan
bertambahnya usia. Enam bulan terakhir ini, setiap kali PMS aku merasa normal-normal
saja dan tidak menyusahkan orang dengan marah-marah yang bodoh dan konyol atau
gembira yang berlebihan. Well, berarti memang ada yang lain dengan siklus kali
ini.
“Na, makan bareng yuk!”
“Ga ah, ngantuk. Pingin cepet balik.”
Aku ingat betul, sore itu temanku sempat mengajakku makan. Tapi aku sama
sekali tidak tertarik dengan makanan. Ingin cepat pulang. Dan seiring kaki melangkah menuruni tangga menyusuri
gedung-gedung dengan bentuk yang begitu kaku, aku memikirkan besok. Besok
memang hanya ada kuliah pagi saja. Itu pun hanya dua jam saja. Tapi setelah
itu, ada rapat redaksi majalah, latihan paduan suara, kumpul kelompok untuk
mengerjakan tugas, rapat kepanitian kegiatan tahunan kampus. Artinya,
sepertinya akan pulang malam. Atau malah menginap di kampus kalau rapatnya
ngalor ngidul sampai tengah malam. Aku masih ingat benar aku merencanakn
kegiatanku untuk besok dengan begitu detail.
Dan sampailah di gerbang keluar. Sambil menunggu angkot, aku melihat ke
kiri kanan. Jreng,,, Itu dia. Masih terekam jelas dalam ingatanku. Orang
yang aku kagumi dari jauh itu sedang lewat tepat di seberangku. Aku berharap
dia memanggilku. Ayo, panggil aku, menoleh ke sini dan panggil aku. Ayo..
satu.. dua.. tiga.. Hening.
Dia berjalan terus. Dan doa tidak terkabul.
Kenapa tiba-tiba jadi lapar ya. Aku mengubah rencana. Tidak jadi pulang,
tapi makan dulu. Sebelah kiri
depan adalah tempat makan kesukaanku. Heran, jam mkan malam begini kenapa masih
sepi. MEnyeberang dengan
aman, masuk, dan langsung menempat tempat duduk kesukaanku di dekat pintu.
“Kwetiaw goreng sama jeruk panas ya neng?”
Anggukan manis dariku dan lima menit kemudian aku datanglah pesananku. Perasaan aneh tiba-tiba datang. Sungguh familiar. Perasaan ini memiliki
aroma ayng sama dengan perasaan waktu aku kehilangan handphone 5 minggu yang
lalu. Juga ketika aku mengalami kecelakaan mobil tiga tahun yang lalu. Bukan
indra ke enam menurutku. Karena aku memang sering merasakan perasaan denga
aroma seperti ini. Dan biasanya lebih sering diakhiri dengan kejadian yang
normal daripada kejadian aneh atau musibah. Flashback. Satu persatu kejadian
yang diawali dengan perasaan aneh seperti ini muncul di kepalaku satu persatu.
Seperti menonton film. Semua begitu detail. Tiap-tiap bagiannya begitu jelas
terekam.Baiklah, mungkin sulit untuk diaphami. Rasanya seperti ini. Misalnya
kamu tahu rasanya jatuh. Sakit. Dan kamu sudah merasakan sakitnya sebelum kamu
jatuh. Dan memang benar kamu jatuh, dan rasanya sakit. Jadi seperti merasakan
sakit dua kali. Yah semacam itulah.
Kali ini rasa sakitnya benar-benar sakit. Sampai aku menangis. Tiba-tiba
air mataku sudah meleleh saja. Aku berusaha mengesampingkan pikiran bahwa rasa
ini adalah firasat. Aku sering tertipu dengan firasat. Aku lebih suka
menyalahkan PMS. Bila PMS dating aku kadang-kadang seperti ini. Menangis tana
alasan. Dan ini bukan hal yang menyenangkan. Dan aku rada bukan hanya aku saja.
Ah, kenapa perempuan harus punya PMS.
Aku akui aku memang cengeng. jadi mungkin ini bukan salah PMS sepenuhnya. Airmata
karena flsh back. Cengeng sekali.Aku sebenarnya ingin menjadi wanita yang
tangguh. Yang tidak gampang menangis. Tapi sepertinya hatiku memang terbuat
dari jeli, atau mungkin sutera. Lembut
dan mudah hancur berkeping-keping. Lembek. Mental
tempe
. Sungguh amat wanita. Memang itu suatu
kelebihan. Tapi kalau jadi gampang
menangis seperti ini, sepertinya tidak begitu menguntungkan.
Jam setengah sepuluh. Hah? Aku satu jam lebih lama di sini. Inilah yang namanya waktu yang berjalan
dinamis. Ketika yang kita pikirkan hany asebuha kejadian yang berlangsung
mungkin sekitar sepuluh menitan, maka waktu yang dipakai hampir du ajam. Angkot ke kosanku sudah habis kalau untuk
jam segini. OK, memang harus
jalan. Segera membayar dan kemudian menyeberang untuk berjalan pulang. Jalanan
sudah sepi. Untung tidak hujan. Aku memaki-maki diriku sendiri karena keasikan
melamun. Jalan ini rasany atidak habis. Belokan ke kiri menuju kosanku
rasanya seperti mundur beratus-ratus meter jauhnya.
“gedubrak..”
Aw, sakit. Tangan yang begitu
kekar meraba-raba kantong celanaku. Mataku langsung berusaha mencari siapa yang
tiba-tiba menarikku dan mendorongku dengan begitu kasar seperti tadi. Tapi
sebuah tangan yang lain menutup mataku dengan kain begitu kuat. Mulutku juga.
Ok. Aku sepertinya dirampok. Tapi toh aku tidak membawa handphone atau dompet. Tasku isinya buku pelajaran. Tenang.
Biarkan mereka mencari apa yang mereka mua lalu mereka akan pergi. Aku sekuat
mungkin berusaha melepaskan diri dari apapun yang membekap tubuhku sedemikian
rupa. Tapi sia-sia. Orang ini sepertinya besar sekali. Ayo cepat, lepaskan aku.
Tidak ada apa-apa yang bias diambil. Mereka berbicara dengan bahasa sunda. Aku tidak mengerti. Kenapa mereka
sepertinya banyak ya. Bau rokok.
Aku lemas ketika aku merasakan ada tangan-tanag aneh meraba raba badanku. Aku
ingin berteriak tapi tidak bisa. Memberontak, tapi tidak bisa juga. Aku lemas.
Aku takut setengah mati. Tolong jangan. Tangan-tanngan itu semakin banyak, semakin liar… Firasat itu benar..
Firasat itu..
Dan itulah hari terkahir yang dapat terekam dengan begitu detail di kepal
ini.
HARI YANG HILANG
Aku bangun di sebuah tempat asing. Gubuk. Otak ku tidak bias mengingat
apa-apa keculai tangan-tanagn itu. Kepalaku sakit dan pusing. Aku benar-benar
bingng dan yang ada di kepalaku hany kata pulang. Tanpa pikir panjang aku
mencari tasku yang ternyata terletak tak jauh dari tempatku tergeletak.
Aku hanya berjalan. Aku tidak mau berpikir. Entah bagaimana aku bisa sampai
di kosan. nyaman. Aku langsung mandi. Selangkanganku sakit sekali. Aku tidak mau
berpikir apap pun tentang ini! Aku tidak amu memikirkan apa yang sudah terjdai.
Ini hanya mimpi. Ini terlalu mirip sinetron. Aku mandi sebersih-bersihnya.
Selesai mandi aku mencari handphoneku. Mengecek hari dan tanggal. Ada banyak
pesan masuk dan miscall juga.
OK. Ini hari Sabtu. Artinya
aku kehilangan memori selama satu hari. Jumat. Aku bingung. Pesan yang kuterima
rata-rata menanyakan aku ada di mana.
Aku melihat ke kaca. Kaget. Ada luka entah karena apa di dahi kiriku. Sabtu tidak ada kuliah. Aku
berberes lalu segera ke rumah sakit. Lukanya cukup panjang. Lebih tepatnya
robek, untung perawat tidak menanyakan apa-apa.Selesai dari rumah sakit. Aku ke kampus. Seingatku hari ini ada
rapat lagi.
“ Na, lo kenapa?”
“Na, sehat aja kan?”
“Na? buset.. kenapa tu kepala?”
Aku hampir gila dengan pertanyaan seperti itu yang terus mengalir di
telingaku. Gila karena tidak bisa menjawab. Gila karea tidak tahu bagaimana
menjawab. Dan hari ini semuanya kacau. Aku bingung harus ke mana dan harus
bagaima. Aku tidak dapat melakukan
segala sesuatunya dengan fokus.Tapi aku berusaha menutupi kebingunganku dengan
bercanda dan tertawa bersama yang lain. Tidak. Aku tidak mau ada yang tahu.
Tidak ada apa-apa dan aku tidak ingat apa-apa.
HARI PEMBENARAN
Sebulan berlalu sejak hari yang aneh itu. Sesuai yang aku harapkan. Yang
orang tahu adalah aku jatuh terpelest, luka, dijahit dan istirahat selama dua
hari di rumah. Sedangkan yang bapak ibu kos ku tahu adalah aku jatih
terpeleset, luka, dijahit dan istirahat di rumah teman tempat aku jatuh selama
dua hari. Dan tidak ada pertanyaan yang lebih jauh lagi tentang itu. Lukaku
sudah sembuh. Dan walaupun bayang-bayang akan pencopetan belum hilang benar aku
sudah tidak terlalu memikirkannya lagi. Banyak hal yang menyita perhatianku
sebulan ini. UTS, rapat,
latihan paduan suara, kegiatan ini, kegiatan itu. Lagipula aku tidak kehilangan barang berharga
apapun seperti dompet atau handphone.
Untuk pagi ini, hari jumat, aku tidak ada kuliah dan aku memutuskan untuk
jalan pagi. Sebulan ini aku sangat kurang olahraga dan kurang istirahat pula.
Jadi aku memutuskan unutk membuat hari ini menjadi hari relaksasi nasional. Jalan
pag sampai jam tujuh, pulang,mandi, tidur untuk membayar hutang bergadang
seminggu terakhir ini, lalu jam lima sorenya ke kampus untuk rapat. Hmmm, atau
bagaimana kalau tidak usah rapat saja ya. Dengan kondisi badan yang tidak terlalu fit
begini, pulang malam pasti akan menjadi katalisator sakit. Baiklah. Aku rasa aku tidak akan rapat malam
ini.
Jalan pagi selalu menyenangkan. Udara pagi, sinar matahari pagi. Semuanya begitu indah. Entah mengapa
tiba-tiba aku merasa mual. Sudah tiga hari ini badanku tidak enak. Mungkin aku
masuka ngin. Rasa mualnya semakin menjadi-jadi dan.. huks.. aku muntah di
pinggir jalan. Sebuah pikiran tiba-tiba terlintas. Tidak. Tidak mungkin. Bukan
demikian dan tidak demikian tentunya. Memang aku belum menstruasi. Sudah
terlambat sekitar dua minggu. Tapi bukan berarti demikian. Maksudku, kesibukan
yang begitu menggila selama dua minggu terakhir ini sudah tentu menimbulkan
tekanan di otak ini yang sangat mungkin membuat kerja hormon tubuhku tidak
beres. Wajar saja kan. Aku terlalu banyak keluar rumah. Sepertinya malam ini
aku harus ke dokter. Dan lebih baik aku habiskan hari ini dengan beristirahat
saja. Ya, aku rasa lebih baik demikian.
Sampai di kosan, pesan yang entah kenapa terasa banyak sekali masuk di
hanphone ku.
”Na, ntar jam sepuluh di depan prtpus. Jangan lupa notulensinya.”
”Kel tiga! Hari ini nginep di tempat ita. Harus selesai malam ini.”
”Woy jarkom! Rapat jam 3 sore di sekre.”
”NA, ke mana lo, cepetean ke sini, ini proposalnya pegimane?”
”Latihan rutin hari ini penting, waji kudu datang.”
Baiklah. Rencana istirahatnya sepertinya batal. Aku segera mandi dan
bergegas ke kampus. Entah kenapa hari ini waktu berjalan sangat lambat. Kondisi
badanku sangat tidak kondusif. Tapi aku rasa semuanya juga toh akan baik-baik
saja. Jam sepuluh, aku merasa bdanku demam tinggi. Jam dua siang, aku
muntah-muntah. Jam empat sore aku benar-benar lemas. Sebaiknya aku ke dokter
dulu, lalu kembali k kampus untuk menyelesaikan sisa-sisa urusanku ini.
Jam tujuh malam. Aku ada di kosan. Mengepak baju. Aku mengatakan kepada ibu
kosku bahwa aku mengerjakan tugas di rumah teman. Dan aku bilang pada teman
sekelompokku aku pulang ke jakarta. Ada acara keluarga mendadak. Aku juga
bilang demikian kepada teman-temanku yang lain. Sebenarnya aku ke rumah sakit.
Aku harus diopname. Gejala thypus. Tabunganku masih cukup membiayai smeuanya. Oleh
karena itu aku memutuskan utnuk tidak mengatakan apa-apa kepada orang tuaku
atau kepada yang lain tentang masalah in. Apalagi setelah dokter bilangan
kandunganku bermasalah. Ya, benar, kandunganku.. Aku hamil.
HARI RAHASIA
Tiga hari di
rumah sakit seharusnya menjadi sesuatu yang menyenangkan dan membantu karena
aku bisa memikirkan apa yang seharusnya kulakukan. Tapi tiba-tiba ketika aku
baru saja merbahkan diri di kasur rumah sakit yang empuk itu, dia datang. Dia
yang aku kagumi itu.
”Na, sakit apa?”
”Nagpain di
sini?”
”Tadi ngeliat
kamu bawa barang banayk masuk ke rumah sakit, aku panggil kamu ga denger. Aku
ikutin aja. Aku pikir kamu kenapa-kenapa soalnya tadi di kampus kamu sempet muntah kan?Dan
lagian kamu bilang kamu balik ke jakarta, bukan ke rumah sakit. Aku ikutin
aja.”
”Aku lagi sms
anak2 si ngasih tahu kamu diopname di sini.”
”Jangan!”
”kenapa?”
”Plis,, jangan
kasih tahu siapa-siapa aku di sini. Plis. Tolong. Penting.”
”kenapa? Orang
tua kamu tau ga kamu diopaname?”
”Enggak. Dan
jangan sampai.”
”Jadi ini
rahasia?”
”Yak. Betul Aku
ga begitu tahu aku bisa percaya sama akmu atau enggak, tapi aku mohon jangan
kasih tahu soal ini ke siapa pun. Tolong dengan amat sangat.”
”Kasih aku alasan
kenapa. Bariu aku mau bantu kamu.”
”Aku ga bisa
ngasih tahu kamu. Aku Cuma bisa minta tolong. Maaf.”
Air mataku
keluar. Tidak! Aku tidak mau menangis di depan dia. Dia kayaknya kebingungan
dan mulai buang muka. Dia tidak suka hal yangberbau melankolis seperti ini.
”Ok. Aku ga mau ikut
campur. Yasudahlah. Aku ga akan bilang siapa-siapa. Aku cabut dulu ya.
Ngomong-ngomong kamu sakit apa?”
”Gejala thypus.”
Dia langusng
membalikan badan. Tidak pamit atau apapun. Seperti biasa. Cuek.Tepat saat Dia
membalikan badan, seorang suster masuk.
”Mbak ina,itu tadi calon papanya…?”
AKu terdiam dan hanya
mengangguk-ngangguk saja. Aku rasa dia, yang kukagumi itu mendengar ucapan
suster ini. Tapi dia tidak mau ikut campur kan?
HARI PENCARIAN
Selama tiga hari
di rumah sakit, dia selalu datang tiap malam. Dan di hari keiga, dia bertanya
kepadaku.
”who’s done it to
you?”
Aku diam. Akh,
aku tidak mau mebicarakannya. Aku takut dia akan memandang jijik kepadaku. Tapi
aku tahu kalau ini aku simpan sendiri, hanya akan menambah beban saja.
”I wish i knew
them..”
”them?”
”Kumpulan orang
teler yang keluyuran malam-malam.”
’Kapan?”
”Sebulanan yang
lalu.”
”Oh, itu
menjelaskan luka di dahi kamu.”
”Begitulah.”
”Lalu ini
baik-baik saja?”
Dia menunjuk
perutku.
”Bermasalah. Aku
baru tahu aku begini pas aku periksa ke dokter sabtu kemarin. Dan kayaknya
support rahim sama badanku ga terlalu prima. Aku juga ga terlalu jaga stamina
kan akhir-akhir ini. Ya jadi begitulah.”
”Kuliah kamu?”
”Aku ga tau. Aku
belum mikir sampai sana. Aku bingung musti ngapain…”
”Minta cuti
saja.”
”ga ngerti
caranya..”
”Ntar aku bantuin
deh.”
”Anak-anak ga
boleh tahu soal ini.”
”OK.”
Dan entah bagimana aku bisa melalui semuanya. Terasa seperti mimpi. Terasa
seperti angin. Waktu aku pulang ke rumah, begitu mama membuka pintu, beliau
langusng memelukku. Mama sudah tahu kenapa tanpa aku perlu bilang. Mama bilang,
beliau mendapat semacam penglihatan di mimpinya. Dia, yang kukagumi itu,
membantuku mengurus permohonan cuti. Aku malah tidak tahu soal itu. Orang tuaku
yang mengurus.
Permohonan cuti yang akhirnya dikabulkan. Semuanya terasa seperti mimpi dan
aku kehilangan emosi. Aku begitu datar menghadapi semua ini. Tidak ada sedih
yang meluap atau rasa takut yang
berlebihan. Hanya cemas teman-temanku akan tahu ini. Aku merasa ini seperti
mimpi. Begitu sulit diterima akal sehat. Selama cuti, aku tinggal di Jakarta.
Seminggu sekali, Dia yang kukagumi mengunjungiku. Memberitahukan perkembangan
keadaan kampus. Yang orang-orang tahu di kampus adalah aku pergi berobat. Satu-satunya
momen di mana aku dapat tertawa lepas adalah kalau Dia yang kukagumi datang. Aku
merasa dekat dengannya karena aku memang tidak pernah bocara begitu panjang
lebar dengannya sebelumnya. Dia sebentar lagi akan mengahdapi sidang tugas akhirnya.
Dan aku khawatir aku begitu
merepotkannya.
”Kalo ngerepotin,
ga usah ke sini terus juga ga apa-apa.”
”Kalo kamu maunya
begitu ya udah.”
”Kamu sendiri
maunya gimana?”
”Terserah kamu,
kamu maunya gimana?
”Ya kamu datang
ke sini bukan karena kasihan sama aku, tapi karen amenag pingin.”
”ya iyalah,
hehehe…”
Dia malah tertawa. Aku tidak tahu persis arti tawanya itu. Yang jelas sejak
itu dia mulai jarang datang. Dan aku sedih. Tapi itu memberikan waktu luang yang
amat banyak bagiku. Aku mulai memikirkan banyak hal sejak itu. Tentang
bagaimana kelak aku akan membesarkan ank ini. Aku juga berpikir untuk berhenti
kuliah dan mencari pekerjaan yang dapat dikerjaka di rumah sehingga aku bisa
membesarkan anakku sendiri. Tapi mama menolak usul itu. Aku harus tetap kuliah.
Aku tidak pernah menyalahkan siapa-siapa atas segala perkara ini. Aku
menerimanya dengan begitu ikhlas, entah mengapa. Aku memang menyukai anak-anak.
Aku sangat ingin cepat punya anak, memang denagn keadaan yang lebih kondusif.
Aku punya suami, jadi jelas semuanya. Aku sempat berharap Dia bisa menjadi ayah
anak ini. Tapi itu suatu pengharapan yang sia-sia. Dia mau menjaga rahasia ini
sudah lebih dari cukup buatku.
HARI-HARI YANG
GELAP
Ketika memasuki bulan ke lima, aku jatuh sakit dan mengalami keguguran.
Rahimku tidak cukup kuat untuk mensupport si kecil ini. Kondisi mentalku juga
tidak mendukung kehamilanku. Aku meyakinkan mama kalau aku tidak stress, tapi
rasanya sia-sia membohongi diri sendiri. YA, aku memang menyukai anak kecil dan
aku memang menikmati bulna-bulan kehamilanku ini. Tapi aku tidak bisa menutup
mata dengan omongan keluarga dan sanak saudara lainnya. Apalgi sekali sempat
aku memergoki papa, papa yang kukenal begitu tegar, menangis karena keadaanku.
Aku begitu marah. Marah pada diriku sendiri yang tidak sanggup mempertahanka
kehamilanku, marah kepada otang-orang yang membuat situasi ini begitu buruk. Sehrusnya
aku merasa lega atas apa yang terjadi. Tidak ada beban lagi. Aku tidak perlul
memikirkan bagaimana membiayai calonanakku ini, memikirkan bagaimana menjaganya
tanpa meninggalkan kuliah. Keguguran ini sebenarnya begitu menguntungkanku. Tapi
aku begitu kehilangan. Aku begitu sedih. Semua hal di sekelilingku tiba-tiba
begitu gelap dan saat itu aku sepertinya baru menyadari betapa aku telah
tertimpa musibah yang begitu buruk.
Aku mengirimkan pesan kepada Dia tentang keguguranku ini dan dia tidak
membalasnya. Padahal aku begitu berharap aku bisa berbagi cerita tentang ini. Satu-satunya
orang yang tahu tentang ini hanya dia saja. Aku juga baru menyadari bahwa aku
tidak punya teman. Tidak satu pun teman wanitaku tahu mengenai ini. Kesibukanku
pada saat-saat terkahir kuliah yang lalu memang menyita begitu banyak waktuku
sampai-samapi untuk bersosialisasi dengan teman satu jurusan saja tidak sempat.
Memang ada beberapa yang meng-sms mrnanyakan kabarku, tapi aku berusaha
menutup-nutupinya. Dan mungkin karena memang hanya sekedar basa-basi, maka
tidak ada yang tahu keadaanku yang sebenarnya. Padahal kalau mereka memkasaku
untuk menceritakan mengapa, aku akan bercerita. Aku juga tidak mau dikasihani.
Sejak itu hubunganku dengan dunia luar benar-benar terputus. Dia yang
kuharap mau memberikan aku perhatian tidak pernah lagi menanyakan kabarku. Aku
juga tidak pernah lagi mengontak teman-temanku. Aku merasa begitu hancur dan
rapuh. Semuanya begitu gelap.Aku kehilangan banyak hal. Anakku,
kepercayaandiriku, dia yang kukagumi dan teman-temanku..
Tujuh bulan dari sisa cutiku begitu menyiksa. Aku begitu depresi dan
beberapa kali melakukan usaha bunuh diri. Tapi itu selalu gagal. Entah kenapa.
Aku menutup kontak dengan sekelilingku. Dan ketika aku muali membukanya lagi
aku sadar aku sudah menjadi orang lain. Aku selalu merasa rendah dan tidak
percaya diri. Aku selalu mengeluh dan mudah menyerah. Aku sering merasa tidak
diperhatikan. Aku begitu menyedihkan. Keikhlasanku dalam menerima segalanya
juga hilang entah ke mana. Aku menyalahkan orang-orang itu dan aku memaki-maki
almarhum anakku. Smeuanya terasa kacau berantakan. Tapi anehnya, semua orang
mengira aku baik-baik saja.
Menulis di blog adalah suatu bentuk pelampiasanku. Aku berharap tidak ada
yang membacaya. Toh, tidak banyak yang bisa dilakukan. Aku tentunya menggunakan
nama samaran, Tapi siapa yang menyangka kalau ternyata ada orang yang begitu
setia membaca blogku. Dia memakai nick name a
cup of tea. Entah apa maksudnya, tapi aku sangat menyukainya. Setiap kali
aku memutuskan untuk mengakhiri segalanya, aku selalu menulisnya di blog dan
selalu saja ada komentar darinya yang membuat aku berpikir dua kali. Dan memang
benar. Membaca komentarnya sama dengan meminum secankir teh. Begitu segar. Salah satu kata yang selalu dia pakai untuk
memanggilku adalah langit pagi. Dia memanggilku demikian karena dia yakin aku
tidak serendah yang aku pikir. Aku adalah langit pagi, yang begitu indah, dan
segar. Gombal sekali bukan. Tapi aku menyukainya. Langit pagi. Coba diucapkan
pelan-pelan. Indah bukan? Dia membuatku begitu hidup. Apalagi di saat- saat itu
aku ingat betul bahwa aku merasa tidak berharga dan tidak patut dicintai,
terlebih setelah dia yang kukagumi benar-benar tidak pernah mengontakku lagi. Entah
bagaimana dia selalu dapat membuatku tenang. Penasihat sprirtualku ini tidak pernah aku ketahui siapa. Aku
juga tidak ingin mengetahui siapa dia. Ketika akhirnya masa cutiku habis, aku
sudah nyaman dengan diriku sendiri. Tepat sejak saat itu, blogku tidak pernah
dikunjungi oleh siapapun lagi. Entahlah, aku rasa aku kehilangan dia.
HARI BARU
Cuti selama satu tahun membuatku masuk ke kampus ini seperti anak baru
lagi. Komposisi teman-temanku berubah tapi aku begiut menikmatinya. Aku merasa
begitu sehat. Sesekali aku memang dihantui mimpi buruk tentang anak kecil. Tapi
entahlah, aku tidak merasa terganggu.
Aku memulai sebuah buku yang baru hari ini. Pagi ini, entah dari mana, entah
dari siapa, aku menemukan secarik kertas dengan sebuah tulisan di dalamnya
tergeletak di deket tong sampah. Isinya begitu manis. Walaupun jelas aku
menemukannya di dekat tong sampah, tapi aku yakin itu memang untukku. Langit
pagi.
Bangunlah, dan lihatlah indahnya
Kamu masih seperti dulu, Kamu adalah langit pagi
Dan kamu akan tetap menjadi seorang kamu
Jangan terus berlari
Tutup telingamu ketika kata itu keluar, Tutup matamu ketika
masa itu datang
Kamu adalah angin bertiup, Dan kamu akan tetap menjadi
seorang kamu
Kamu adalah berharaga, Dan akan terus selalu berharaga
Apa pun yang telah terjadi
Lupakan luka brengsekmu itu!!
di angkasa raksasa ini, Sebuah cinta harus dan akan ada
untukmu..
13.12.05
21.00
unclassified,, gj sih,, hehe | Comments (2)gua ditolak!!
ya gitu d…
penolakan yang sangat lucu..
hahahahahahaha…
tentang teh 2
air panas dan dua sendok gula
dicelupkan lalu diaduk-aduk
bening terus kecokelatan
begitu seterusnya
setiap ingin minum teh..
postingan2 gj gw,,,
duh,,, kalo ngeliat isi postingan gw tuh kayaknya menyedihkan banget ya,,,
gw juga akhirny sebel ngeliatnya.
tapi memang begitulah hidup..
maksud gw emang ada fasenya.. kapan lo di atas dan di bawah.
masalahnya terletak di kecepatan. gw masuk dalam golongan yang kecepatannya sesuka hati gw,,
kan ga bagus ya..
huh…
tentang teh,,
secangkir teh di atas meja
terhidang ketika sedang hujan
membagi aromanya yang menggoda hati
dihirup pelan-pelan
badan pun terasa hangat
secangkir teh di atas meja
sekarang sudah kosong tidak berisi
(begitu inginnya untuk ) berhenti berharap
aku terus memikirkannya.
kamu begitu menakjubkan dalam beberapa
sekaligus mengherankan dalam banyak. semakin kita berbagi,
semakin aku bermimpi.
kita begitu berbeda. Sepertinya
aku tidak ingin bertemu denganmu lagi
atau bersama-sama denganmu lagi..
aku begitu lemah membiarkan semuanya terjadi,,
entah apa... | Comments (2)